Wednesday, April 6, 2011

Because The Power is Not Mine

1/
lalu apakah harus kulanggar janji pada Tuhan, semata-mata hanya untuk menghukum diriku yang terlalu lemah pada sangkaan? ah, setan memang pintar. sekolah dimana ya dia? ada beasiswa gak ya kira-kira?

2/
seharusnya pisau itu kulepas saja, sudah terlalu lama mengeram, kini berkarat, kurasa aku kena tetanus. enaknya, bagian tubuh yang mana ya, yang harus dihilangkan? hatiku?

3/
jangan paksa aku untuk mengutuk yang membuat seluruh organku berfungsi, karena walau hanya setitik, aku masih mengeja nama surga, dalam hening, juga riuh. tapi Saqor, nyatanya lebih terngiang. ah, aku lupa, sudah punya Golden Ticket untuk kesana. jadi tak perlu repot-repot jadi orang baik.

4/
meludah saja semauku. toh besok tak tau akan jadi apa. reinkarnasi jadi bebek mungkin asyik. setidaknya aku tidak perlu pakai kolor.



_Jakarta : 05.04.2011

Wednesday, March 2, 2011

Oilah...

Oilah
--Novie Andi

Oilah bulan baru sudah datang,
tak dinyana masih tersaruk.
tidak luka, tidak!
hanya agak pedas saja rasa kaki menggesek aspal tanpa alas.

bukanlah hati oilah mau bersombong,
apalah juga yang patut diumbar?
pun kini aku tak berkilau.


Oilah, aku bukannya pasrah.
hanya malas pada takdir.
padahal ludahku sudah kering.
pahit pula.

Ya...mungkin aku hanya malu.
malu pada pikiran dan picisan yang mungkin aku dapatkan.
padahal setan-setan itu tak bergeming, hanya melihat.
ya..hanya melihat.

Kemana perginya peri-peri pelangi itu?
tanganku sudah dingin, tak ada yang menggandeng lagi,
aku rindu sekali....rindu merasa tenang.

Oilah...mungkin aku hanya manja.
padahal Tuhan cinta pada yang rajin berpeluh, bukan berkeluh.

Oilah...
Oilah...
Oilah..

_Jakarta : 02.03.2011

Tuesday, March 1, 2011

Dinding Tipis

Dinding Tipis
--Novie Andi

carut marut
lintang pukang
terseok
terbuang
dan mati.

penuh keputusasaan aku membaca setiap bait yang tercetak ditubuhmu.
penuh kucari.
namun tak ada tentangku.
tak ada.

lalu kutambahkan goresan agak dalam pada kulitku.
kurajah namamu disana.
agar walau ku mati, kau tetap bersamaku.

sudah lama aku mendampingi hari-harimu.
memelukmu saat kau perlu.
menciummu saat kau butuh.
memanjakanmu saat kau ingin.
tapi bagimu aku hanyalah pinguin.

lucu.
kamu lucu.
hanya itu ungkapan atasku darimu.

ah...sudah perih tak terperi,
kau menikmati setiap lenguhanmu dengan yang lain,
sementara aku menanti dibalik dinding tipis di ujung yang lain.
mendengarkan, menyimak, sambil mengutuk diri.

kau tak pernah melenguh denganku, menyeringai pun tidak.

aduhai...
baiknya aku pergi saja sejak dulu.
ke negeri antah berantah yang menyimpan ribuan lembah.
yang kata orang, satu lembah bisa menghilangkan ratusan orang.
ya, aku ingin lenyap saja.
kalau perlu jadi lumpur.
biar tersamar.
apakah aku tanah basah.
atau hanya kotoran dalam sampah.

_Jakarta : 16.31