Masih saja tetap kucari, walau ku tau jalannya sudah beku.
Berlari hingga terjatuh berkalikali.
Menyisakan luka yang menganga. Semakin dalam.
Semakin dalam.
Dengan belati terakhirku akan kukoyak kertas takdirmu.
Menghancurkannya tak bersisa, agar kau tak pernah ada.
Tak pernah ada.
20.02.12 - djakarta theater
"andai upil bisa ber-reinkarnasi, pasti dia sudah berubah jadi kupukupu atau hujan atau kodok atau pelangi. tapi, seringnya upil hanya berakhir dibawah meja. nempel. menggumpal. melekat erat pada kayu atau kaca. upil juga punya takdirnya sendiri. upil juga punya hak untuk jadi apa saja yang dia mau. seharusnya upil tidak dilupakan. upil juga punya Tuhan kan?"
Showing posts with label rungsing. Show all posts
Showing posts with label rungsing. Show all posts
Wednesday, February 29, 2012
Naskah Sepenggal
Tuhan.
masih pantaskah kusebut namaMu? diatas segala permasalahan yang 'memaksaku' untuk kembali kepadaMu?
aku malu, karena datang padaMu hanya saat ku butuh. huff...
mungkin benar kata orang-orang, dalam kesempitan, kesendirian, kesusahan, baru Tuhan itu terasa tidak pernah meninggalkan kita. dan saat sedang bergembira bergelimpang bahagia dan suka cita, kita LUPA kalau Tuhan itu ada.
ah, alangkah sombongnya!
neraka apa yang pantas untuk aku ya Tuhan? karena aku merasa benar-benar tak layak walau hanya membayangkan surgaMu.
masalah itu datang, seharusnya berperan untuk 'membesarkan' kita. bukan menjadikan kita semakin mengkerut, kisut atau bahkan berubah menjadi hitam.
sewaktu berdiri di busway tadi. berkelebat semua bayangan tentang permasalahku, ini, itu, anu, gono, gini,..,.aarrgrhhh!! rasanya pengen jedotjedotin kepala ke jendela busway, tapi gak jadi, gak seksi soalnya.
terlintas juga pikiran. ya...mungkin aku mati bunuh diri. tapi tidak! masalah itu ada untuk dipecahkan dan diselesaikan, bukan untuk ditinggalkan atau dibiarkan. pengecut itu namanya! and i'm not one of them!
ya...kalau aku mati bunuh diri.
apakah semua masalah serta merta selesai?
apakah semua kejadian akan lebih baik dari sekarang?
apakah semua takdir akan berubah drastis?
lalu aku sadar, benarbenar sadar, Tuhan sudah mempersiapkan rencana besar untukkku. entah apa pun itu. aku tidak tau dan tidak mau tau.
kalau Tuhan mau, Dia pasti sudah mencabut nyawaku disetiap kesempatan yang ada.
dulu, waktu tenggelam saat berenang.
dulu, waktu naik motor dan hampir tercebur ke laut.
dulu, waktu kereta yang aku tumpangi dilempari orang pake batu, dan serpihan kacanya hampir mengenai mukaku.
dulu, waktu naik pesawat dalam keadaan cuaca yang gak asik banget.
dulu, waktu berkelahi dengan mbak kakung.
dulu, waktu terjun bebas dari tembok rumah.
banyak! banyaakkk banget kesempatan untuk datangnya malaikat Izrail padaku. mungkin Tuhan masih menahannya untuk menemuiku.
ada aku disini, dimeja ini mengetikkan ini, adalah juga bagian dari rencanaNya.
entah untuk mengujiku atau untuk membuatku bersyukur.
ah, ya..paling tepat seharusnya adalah kalimat bersyukur. akhirakhir ini aku sering lupa.
.......................................................................................
Tuhan yang Maha Baik.
melalui tulisan ini, dan dalam bahasa yang aku mampu,
aku memohonkan padamu....
aku mohon....
aku................
ah...bahkan yang aku mau pun tak sanggup lagi aku pintakan kepadaMu.
aku merasa durhaka!
jangan pergi dulu ya Tuhan.
beri aku waktu sedikit saja untuk berpikir baikbaik
tenang permintaan terakhirku
yang aku sangat mohonkan
dan tidak akan tersesali lagi.
tunggu sebentar saja.
.......................................................................................
hari ini mendung.
mataku sembab
mungkin kurang tidur
atau terlalu malu menatap matahari.
....................................................................................
besok hari apa?
semoga nafasku masih lancar dan lapang.
seribu doa untuk itu.
Tuhanku..
_Jakarta, Februari 2012
-->gambar diambil dari http://www.jomiwi.com/main/?p=14
masih pantaskah kusebut namaMu? diatas segala permasalahan yang 'memaksaku' untuk kembali kepadaMu?
aku malu, karena datang padaMu hanya saat ku butuh. huff...
mungkin benar kata orang-orang, dalam kesempitan, kesendirian, kesusahan, baru Tuhan itu terasa tidak pernah meninggalkan kita. dan saat sedang bergembira bergelimpang bahagia dan suka cita, kita LUPA kalau Tuhan itu ada.
ah, alangkah sombongnya!
neraka apa yang pantas untuk aku ya Tuhan? karena aku merasa benar-benar tak layak walau hanya membayangkan surgaMu.
masalah itu datang, seharusnya berperan untuk 'membesarkan' kita. bukan menjadikan kita semakin mengkerut, kisut atau bahkan berubah menjadi hitam.
sewaktu berdiri di busway tadi. berkelebat semua bayangan tentang permasalahku, ini, itu, anu, gono, gini,..,.aarrgrhhh!! rasanya pengen jedotjedotin kepala ke jendela busway, tapi gak jadi, gak seksi soalnya.
terlintas juga pikiran. ya...mungkin aku mati bunuh diri. tapi tidak! masalah itu ada untuk dipecahkan dan diselesaikan, bukan untuk ditinggalkan atau dibiarkan. pengecut itu namanya! and i'm not one of them!
ya...kalau aku mati bunuh diri.
apakah semua masalah serta merta selesai?
apakah semua kejadian akan lebih baik dari sekarang?
apakah semua takdir akan berubah drastis?
lalu aku sadar, benarbenar sadar, Tuhan sudah mempersiapkan rencana besar untukkku. entah apa pun itu. aku tidak tau dan tidak mau tau.
kalau Tuhan mau, Dia pasti sudah mencabut nyawaku disetiap kesempatan yang ada.
dulu, waktu tenggelam saat berenang.
dulu, waktu naik motor dan hampir tercebur ke laut.
dulu, waktu kereta yang aku tumpangi dilempari orang pake batu, dan serpihan kacanya hampir mengenai mukaku.
dulu, waktu naik pesawat dalam keadaan cuaca yang gak asik banget.
dulu, waktu berkelahi dengan mbak kakung.
dulu, waktu terjun bebas dari tembok rumah.
banyak! banyaakkk banget kesempatan untuk datangnya malaikat Izrail padaku. mungkin Tuhan masih menahannya untuk menemuiku.
ada aku disini, dimeja ini mengetikkan ini, adalah juga bagian dari rencanaNya.
entah untuk mengujiku atau untuk membuatku bersyukur.
ah, ya..paling tepat seharusnya adalah kalimat bersyukur. akhirakhir ini aku sering lupa.
.......................................................................................
Tuhan yang Maha Baik.
melalui tulisan ini, dan dalam bahasa yang aku mampu,
aku memohonkan padamu....
aku mohon....
aku................
ah...bahkan yang aku mau pun tak sanggup lagi aku pintakan kepadaMu.
aku merasa durhaka!
jangan pergi dulu ya Tuhan.
beri aku waktu sedikit saja untuk berpikir baikbaik
tenang permintaan terakhirku
yang aku sangat mohonkan
dan tidak akan tersesali lagi.
tunggu sebentar saja.
.......................................................................................
hari ini mendung.
mataku sembab
mungkin kurang tidur
atau terlalu malu menatap matahari.
....................................................................................
besok hari apa?
semoga nafasku masih lancar dan lapang.
seribu doa untuk itu.
Tuhanku..
_Jakarta, Februari 2012
-->gambar diambil dari http://www.jomiwi.com/main/?p=14
Monday, November 21, 2011
Manusia atau Tidak Manusia?
Selamat pagi!
Selamat hari Senin!
Semoga hari ini (walaupun mendung) kita tidak kehilangan semangat untuk bisa bekerja, berkarya, belajar dan berusaha lebih baik lagi. ^_^
Hari ini, begitu nyampe kantor, langsung buka Kompas.com dan baca berita tentang penangkapan Gloria Macapagal Arroyo. Mantan Presiden wanita pertama Filipina yang diadili karena dituduh melakukan kecurangan pada saat Pemilu tahun 2007 yang lalu. Penahanan ini dilakukan atas perintah Presiden Filipina sekarang Presiden Benigno Aquino. Presiden memberikan maklumat untuk menahan Arroyo apapun keadaannya, dan tidak akan membiarkan Arroyo pergi keluar negeri dengan alasan apa pun. Jika terbukti bersalah, Arroyo akan dihukum seumur hidup.
Yang bikin miris adalah, Arroyo ditangkap di bandara pada saat akan berobat keluar negeri, atas penyakit yang dideritanya. Arroyo menderita penyakit langka di tulang belakangnya, ditambah dengan infeksi usus, karena tidak berselera makan. Setelah ditangkap kondisinya semakin memburuk.
Tadi sempat melihat juga foto Presiden Arroyo waktu masih sehat, masih jaya, lagi ngobrol sama Presiden Clinton. Masih sehat, cantik, gemuk, makmur dan berwibawa. Sekarang? Rambut gak keurus, duduk diatas kursi roda, ada penyangga tulang di dadanya, pake masker, dan sangat kurus. Plus dia didakwa melakukan persekongkolan dengan salah satu panglima untuk meloloskannya pada pemilu dulu. Pemerintah yang sekarang pun dengan tegas melawan dia dan berusaha untuk menjatuhkannya lebih dalam lagi. Apa sih yang kurang buruk dibandingkan dengan hukuman seumur hidup dalam keadaan sakit parah? Hukuman mati kayaknya lebih baik, setidaknya dia gak menderita lebih lama.
Kisah lain lagi yang agak menggemaskan (baca : menyebalkan) adalah kisah eksekusi Khadafi oleh para penentangnya yang dengan sangat brutal (digambarkan dengan gamblang di media) dibunuh dan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi (termasuk setelah dia meninggal). Okelah, mungkin itu (menurut warga Libya) adalah pembalasan atas perlakuan Khadafi semasa hidup yang saaaaaaaaaangat menorehkan luka ke semua masyarakat Libya. Melakukan pelanggaran HAM, bertindak semena-mena dll. Diakhir hidupnya, bukan pengadilan internasional yang dilakukan atasnya, tapi pengadilan 'manusia'. Dilakukan oleh bangsanya sendiri. Secara terbuka dan tanpa tedeng aling-aling.
Melihat perlakuan yang diterima para mantan Presiden itu, jadi teringat perlakuan yang diterima oleh mantan Presiden Soeharto. Presiden yang pada masa hidupnya kerap dipanggil 'Bapak'. Pada sisa hidupnya, ratusan bahkan mungkin ribuan tuduhan di ajukan kepadanya. Pelanggaran HAM yang dilakukan sejak dulu (semenjak dia masih menjadi tentara), segala macam penipuan (Supersemar : akhir-akhir ini baru terkuak kalo itu hanya karangan si Bapak semata), KKN : terutama untuk keluarga dekatnya (yang akhir-akhirnya semakin booming dilakukan oleh ranah mana pun di pemerintahan juga di masyarakat : trend mark!), daaaaaan masih banyak lagi pelanggaran yang dilakukan si Bapak. Tapi, gue merasa bersyukur, beruntung malah, tinggal di Indonesia, dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Kenapa? Sejahat-jahatnya si Bapak, masih ada hasil dari masa pemerintahan dia dulu yang bisa kita nikmati sampai saat ini. Hentakan pertama pembangunan dimana-mana, swadaya beras, ekspor bahan makanan, pendidikan, transportasi (jalan tol, bo!), daan lain-lain.
Beruntung, si Bapak tinggal di Indonesia. Walopun diadili macem-macem, masih bisa tuh di mendapatkan perawatan ekstra mahaaal dan ekstra baguuus di rumah sakit ternama di Jakarta. Walopun statusnya tahanan, masih bisaaa dia berkumpul dengen tenang bersama keluarga besarnya, merayakan Lebaran bersama, disungkemi orang banyak yang masih men-'Dewa'kan dia, plus, masih banyak orang-orang yang memberikan nama sama dengan nama dia untuk anak-anak mereka dengan harapan, anaknya bisa menjadi orang besar seperti dia.
Meninggal pun, banyak yang mengarak. Sampai ke Solo sana, bersebelahan dengan kuburan mendiang sang istri yang sudah lebih dulu meninggal. Itu pun, masih banyak juga yang menangisi, mengelu-elukan, mendoakan, dan entah, untuk tujuan apa, apakah benar-benar ikhlas, atau hanya akting semata.
Tapi, waktu beliau meninggal dulu, saya juga turut berduka, karena beliau adalah Presiden yang agak membekas dihati saya. Dari jasanya sampai kejahatannya. Karena beliau, saya jadi lebih suka pada sejarah, sekaligus membencinya, karena merasa dibohongi. Sampai sekarang pun saya gak mau tau tentang sejarah masa lalu. Taik semua!
Tapi, tidak semua sejarah adalah palsu. Tidak semua pahlawan terkenal dan dikenal. Tidak semua kejadian adalah tentang benar atau salah. Sejarah adalah masa lalu yang pernah terjadi. Pahit atau tidak. Kita juga adalah merupakan sejarah untuk masa depan. Baik atau buruk. Pahit atau tidak.
Kesimpulannya...ada saatnya kita harus bertindak tegas, ada saatnya juga kita harus bertindak manusiawi. Selama masih merasa menjadi manusia, ada baiknya kita bersikap seperti manusia pula. Yang dikaruniai akal dan rasa, yang bisa menyelamatkan jiwa kita sendiri, yang merupakan rahmat dari Tuhan.
Kalau saja hal-hal itu tidak ada lagi. Makan sesama manusia (dalam arti yang sebenarnya) sudah tidak aneh lagi. Bukan begitu?
#Jakarta : 21.11.11
(ntar malem final Indonesia vs Malaysia....sejarah nih...hehehehe)
Tuesday, October 25, 2011
Sabar Itu...
Sabar itu...
menahan diri untuk nggak ngomel-ngomel
waktu nunggu busway yang datangnya selaluuuu telat,
kepanasan, desak-desakan daan tentu saja, nyampe kemana aja gak tepat waktu.
kepanasan, desak-desakan daan tentu saja, nyampe kemana aja gak tepat waktu.
Sabar itu...
menahan amarah
pada kejadian un-moral yang terjadi pada balita yang ditabrak lari dua kali di China.
Sabar itu...
menyebutkan doa diam-diam untuk Simoncelli,
(masih gak percaya dia pergi begitu cepat).
Sabar itu...
membiarkan lebih dulu masuk lift kepada orang-orang yang sudah ngantri sekian lama,
pun juga kepada orang-orang yang sangat santai menyerobot antrian
Sabar itu...
mau mendengarkan keluh kesah orang lain,
sekalipun saat itu, gue lagi gak mood sama sekali
Sabar itu...
mempersilakan orang yang gak gue suka
untuk berbuat sesuka mereka dengan tetap membuat mereka berpikir 'i'm not their dog'
Sabar itu....
mengantri di toilet bioskop karena nahan pipis
dan ngayal udah ada diantrian paling depan padahal masih ada sekitar lima belas orang lagi
Sabar itu...
mau menyelesaikan kerjaan kantor walau tahu,
gak akan pernah selesai hari ini atau kapanpun
Sabar itu...
seperti melepas teman bertugas ke negeri lain,
dan berharap suatu saat nanti masih bisa berkumpul bersama dengan jumlah yang sama pula.
42.
Sabar itu...
menikmati setiap tikaman rasa sakit pada tulang belakang,
pada bagian tubuh yang lain,
demam yang meninggalkan pusing yang amat sangat,
dan lidah yang terasa pahit sesudahnya
Sabar itu...
membuka lebar-lebar luka di hati,
lalu mengangin-anginkannya dan sedikit menaburi garam
untuk membiarkannya kebal dan tak akan merasakan sakit lagi selamanya
Sabar itu...
adalah setiap senyum,
yang akan aku persembahkan padamu,
dalam gundah atau bahagiamu,
tanpa kau perlu tahu, apa yang sebenarnya aku rasakan.
Sabar itu...
pantatnya lebar...
Hahahaaha...serius-serius amat sih?
Hidup cuma sekali kawan, so, be wise! (^_^)
*terinspirasi dari kejadian hari ini
**gambar diambil dari http://erwinperkasa.wordpress.com/2011/03/page/6/
Thursday, May 5, 2011
Karena Hujan
Hari ini hujan sedari pagi. Langit Jakarta berwarna kelabu kusam. Udara juga terasa dingin. Tapi, ternyata tidak seperti dalam hatiku. Aku merasa panas. Panas yang kemarau...
Ada sekelumit rindu yang menyeruak pada kegelisahanku. Aku rindu saat hujan menekan sisi kepalaku. Memaksa pori-pori kulitku menerima penuh limpahan air yang seolah tiada henti. Lalu menentramkanku dalam gigil yang nikmat. Ah..ya, disini hujan terlalu ramai. Terlalu berbahaya. Karena disini aku tidak bisa berlari leluasa sambil merentangkan tanganku. Menyusur lapisan tanah yang tergusur sambil menari bersama angin. Disini sudah penuh dengan jutaan besi egois yang ditunggangi manusia yang tak kalah egoisnya. Aku tak merasa bebas lagi.
Lalu aku rindu pada kecupmu.
Ciuman pertamaku yang kau rampas dengan paksa. Lidahmu yang bermain dalam mulutku. Menghisap pelan segala egoku dan membuat tanganku pasrah membelai belakang kepalamu. Nafasmu yang terasa tawar dan beraroma rokok Marlboro..ah, dan juga ada sedikit rasa kopi hitam. Aku rindu bibir itu.
Ya, semua terjadi karena hujan.
Kita bertemu setelah hujan reda. Bercinta juga setelah hujan reda. Dan berpisah..setelah hujan reda.
Aku tak pantas menyebutmu kekasih.
Walau kadang tubuh ini bergetar saat mulai mengeja namamu. Merindukan suara manjamu. Menemanimu sampai terlelap. Membayangkan seolah aku ada disana memeluk tubuh hangatmu. Ah..aku tetap bukan seorang kekasih bagimu. Karena sesungguhnya aku sudah berkasih dengan seseorang yang lain. Yang kupanggil kekasih. Yang memanggilku kekasih. Yang berujar cinta padaku, dan aku yang selalu belajar untuk mencintainya. Sialnya. Kau selalu membuatku kembali pada kenangan saat hujan datang.
Kini katakan dengan jelas. Kalau hari ini hujan tak jua berhenti, apakah aku harus berlari menujumu, meredakan gumpalan kegusaranku, supaya besok matahari bisa terik lagi? Lalu, relakah kau, bila aku menjadi bisu atas pernyataan hatiku terhadapmu?
Aku rindu pada hujan setiap saat, sebanyak air yang jatuh itulah, limpahan rasaku padamu.
Tapi aku akan menikah.
Harus menikah.
Dengan seseorang yang kupanggil kekasih, dan yang memanggilku kekasih. Atas nama janji.Atas nama masa. Atas nama rasa. Kekasih itu bukan kau. Bukan kau yang melenguh menyebutku sayang saat kita khusyuk dalam peluh. Dia. Dia yang tak pernah kulihat wajahnyalah yang berhak atasku.
Bukan kau.
Ah. Lalu semua ini lagi-lagi karena hujan.
Karena hujan.
to be continue...
Kesimpulannya...
Maaf.
Sebelumnya saya mau minta maaf. Atas apa yang akan saya ceritakan nanti disini. Tentang puisi. Tentang kegandrungan saya menulis, yang sudah saya nikmati sejak di Sekolah Dasar dulu. Gara-gara guru Bahasa Indonesia saya yang dengan senang hati 'meracuni' saya dengan segala karya sastra, sebutlah Siti Nurbaya, Atheis, Layar Terkembang dll. Saya dibuatnya jatuh hati. Mati penasaran, kalau belum membacanya sampai tuntas. Kelompok kata-kata itu membuat saya membenci angka, membenci segala yang tak mampu bercerita, sekaligus memaksa saya menikmati seni: lukisan, musik, gerak, pun dalam geliat kata, puisi.
Ya. Dulu saya mampu mendekam dalam kamar semalaman, menulis dan menulis tentang puisi. Tanpa saya mempelajari dasar penulisannya seperti apa, akan mengikuti gaya apa dan siapa. Saya hanya terus menulis, menulis dan menulis. Dulu saya menuliskan dalam kertas buram, yang biasa dipakai untuk coret-coret waktu ujian, kemudian disatukan dan saya simpan baik-baik.
Beberapa waktu lalu saat pulang ke rumah dan membereskan kamar, dalam laci meja, dibungkus plastik, saya temukan lagi kumpulan tulisan itu. Ah...saya tertawa geli saat membacanya. Hampir semua tulisan saya berbau cinta dan sakit hati...padahal waktu itu, punya pacar aja nggak. Hahahahaha....
Haaah....belasan tahun sudah berlalu, dan saya masih saja terus menulis. Membuat galian dalam hidup. Memperkuat akar. Dan berusaha meninggalkan jejak yang jelas. Pun walau kehadiran saya masih tersamar. Saya masih menikmatinya.
Sampai saat itu. Ya saat matinya perasaan saya ketika membaca sebuah tulisan yang dikategorikan sebagai puisi.
Tidak. Tulisan itu tidak jelek. Amat sangat bagus malah. Saya terkesima. Terdiam. Lalu merasa bodoh. Karena ternyata perjalanan saya sekian masa tidak berarti apa-apa. Saya masihlah sebesar kuman. Tak bernama. Hanya seperti kentut.
Sejak saat itu saya kehilangan gairah untuk menulis. Semua tulisan teman-teman di jejaring sosial yang mampir di wall saya, satu-satu mulai tidak saya hiraukan. Lalu lama-lama malah saya lewatkan. Benar-benar sungguh mati minat saya.
Apa ini hanya sebuah kebosanan sesaat? Atau pengakuan kekalahan dari sebuah karya yang mampu membungkam saya? Atau kepengcutan jiwa saya yang tidak mau mengakui keunggulan orang lain dalam berkarya? Atau.... saya memang sebenarnya tidak berbakat menulis? Atau...masih banyak atau-atau lainnya yang saya timpakan kepada diri saya.
Dan sampailah pada satu kesimpulan. Bukan hanya bosan, tapi juga melewatkan kesempatan berkali-kali. Padahal saya tau saya mampu.
Hanya malas. Sudah. Itu saja.
Wednesday, February 23, 2011
Kisah Tentang Bunuh Diri
Kerlipan malam mulai patuh menyenggamai bulir keringat di ujung hidung.
Ya, hidung yang sama seperti 15 tahun yang lalu, hanya saja, sudah berubah bentuk.
Operasi plastik.
Bau asap dupa mulai menyeruak.
Ritual ini sudah dipersiapkan sejak dua tahun yang lalu.
Ritual bunuh diri.
Di altar sudah tersedia silet yang baru dibelinya dari supermarket.
Pisau dapur.
Jarum suntik, yang sudah dilumuri racun.
Sejumput kokain.
Sepiring udang goreng.
Dan sebotol vitamin C dosis tinggi.
Dipandanginya satu-satu benda-benda yang akan mengantarnya bertemu maut.
Yang mana yang paling sedikit menimbulkan rasa sakit.
Bahkan kalau bisa, jangan sampai ada rasa sakit.
Tapi, tunggu sebentar.
Apa masih sempat, memikirkan rasa sakit?
Bukankah bunuh diri ini justru untuk menghilangkan rasa sakit?
Ah, peduli amat! Mana saja tak masalah!
Pengecekan terakhir.
Wasiat di rekaman video, siap.
Uang gaji terakhir untuk Bapak, Ibu dan adik-adik dikampung, siap.
Surat cinta untuk kekasih tercinta, dan selingkuhan tersayang, siap.
Surat teror untuk musuh-musuh, siap.
Tips untuk pemilik kosan, upah menemukan mayat, siap.
Amplop untuk sedekah masjid dan panti asuhan, siap.
Yak!
Sekarang saatnya.
Selamat tinggal dunia sok suci.
Neraka agung sudah menunggu.
Lambaian bidadari-bidadarinya tak kalah birahi dengan yang disediakan surga.
Baiklah.
Mari mulai!.
_Novie Andi
Ya, hidung yang sama seperti 15 tahun yang lalu, hanya saja, sudah berubah bentuk.
Operasi plastik.
Bau asap dupa mulai menyeruak.
Ritual ini sudah dipersiapkan sejak dua tahun yang lalu.
Ritual bunuh diri.
Di altar sudah tersedia silet yang baru dibelinya dari supermarket.
Pisau dapur.
Jarum suntik, yang sudah dilumuri racun.
Sejumput kokain.
Sepiring udang goreng.
Dan sebotol vitamin C dosis tinggi.
Dipandanginya satu-satu benda-benda yang akan mengantarnya bertemu maut.
Yang mana yang paling sedikit menimbulkan rasa sakit.
Bahkan kalau bisa, jangan sampai ada rasa sakit.
Tapi, tunggu sebentar.
Apa masih sempat, memikirkan rasa sakit?
Bukankah bunuh diri ini justru untuk menghilangkan rasa sakit?
Ah, peduli amat! Mana saja tak masalah!
Pengecekan terakhir.
Wasiat di rekaman video, siap.
Uang gaji terakhir untuk Bapak, Ibu dan adik-adik dikampung, siap.
Surat cinta untuk kekasih tercinta, dan selingkuhan tersayang, siap.
Surat teror untuk musuh-musuh, siap.
Tips untuk pemilik kosan, upah menemukan mayat, siap.
Amplop untuk sedekah masjid dan panti asuhan, siap.
Yak!
Sekarang saatnya.
Selamat tinggal dunia sok suci.
Neraka agung sudah menunggu.
Lambaian bidadari-bidadarinya tak kalah birahi dengan yang disediakan surga.
Baiklah.
Mari mulai!.
_Novie Andi
Tuesday, February 22, 2011
Terima Kasih
Pagi tadi saya membaca cerita di http://oase.kompas.com/read/2011/02/16/19085042/Kisah.Hebat.Gadis.Pemulung.Dibukukan tentang seorang gadis pemulung yang kisah hidupnya dibukukan. Seorang gadis Bali bernama Ni Wayan Mertayani (16) yang memenangkan penghargaan lomba foto internasional yang diadakan oleh Museum Anne Frank di Belanda. Ni Wayan yang biasa dipanggil Sepi ini, adalah seorang gadis istimewa.
Kenapa? Ya. Dia cuma gadis biasa, yang banyak kita temukan ada di Indonesia, berasal kalangan keluarga yang bisa dibilang, sangat kekurangan (ini juga sudah biasa kita lihat di Indonesia--saya menulis ini dengan miris : membiasakan membiarkan diri melihat 'orang susah' dengan mengesampingkan nurani). Tapi saya, dengan bangga bilang kalo dia 'istimewa'. Bukan karena kisah hidupnya yang dibukukan. Tapi karena dia mau mengambil kesempatan yang datang padanya. Menyikapi dengan serius. Percaya diri. Dan tidak memakai topeng apapun, hanya jadi dirinya sendiri.
Sekarang coba tanya sama diri sendiri. Dari beberapa kalimat diatas yang berkaitan dengan 'mengambil kesempatan', sudah pernah belum sih kita lakukan? Ini sebenarnya lebih ke arah sindiran saya terhadap diri sendiri.
Banyak lomba-lomba penulisan, banyak tawaran kerjasama menulis, banyak media-media elektronik dan media massa yang 'melambai-lambai' memanggil saya untuk mengadu nyali -berani gak sih, karya saya dinilai?-. Tapi, lagi dan lagi, semangat itu hanya membara di awal, pada pertengahan sudah melempem, dan akhirnya, hangus, hilang, lenyap, moksa!
Ya. Saya teralu pengecut untuk mengambil tawaran-tawaran itu. Bukan tidak percaya diri. Bukan tidak mau. Saya hanya pengecut! Padahal saya sangat ingin. Benar-benar sangat ingin, suatu saat saya tidak melulu mengoleksi buku-buku karya orang lain. Saya ingin punya buku, dengan nama saya tercantum di sampul bukunya, sebagai pengarang, sebagai penulis.
Jadi ingat pembicaraan dengan senior tadi saat sambil menunggu busway yang akan membawa saya ke kantor. Dia bilang, 'Jadi, setelah lulus S1, targetnya apa lagi nih?'. Saya terdiam lama. Sebenernya sepersekian detik setelah pertanyaan itu terlontar, jawaban yang ada di pikiran saya adalah, 'Saya mau bikin buku, setidaknya satu saja, sebelum penempatan'. Tapi itu hanya mengendap saja. Alih-alih saya menjawab, 'Kalo disana (di luar negeri) kita bisa gak sih kerja sambil ngelanjutin S2?'. Deng! That's not come from my heart!
Tapiiiiii...gara-gara baca kisah Sepi tadi, saya jadi (sedikit) termotivasi. Dan jadi ingat perkataan Papa dulu, waktu saya masih kecil, "Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak?".
Ya, kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak? ^_^
Saturday, November 13, 2010
Ternyata benar...
Benarkah? apa yang mereka katakan tentang segala baik dan burukku? padahal aku sendiri tidak peduli akan jadi baik atau buruk. Aku hanya menikmati saja. Mengumpat saat ku mau. Memuja saat ku butuh. Lalu apa yang salah?
Benar. Aku kesepian. Karena selama ini belum ada yang bisa membuatku 'orgasme' berkali-kali. Selalu terhenti di tengah jalan, dan rasanya sangat tidak enak!
Tidak. Aku tidak mengumpat pada Tuhan atas mereka yang didatangkan padaku sebelumnya. Bukan salah mereka untuk tidak menjadi 'sempurna' seperti yang aku mau. Mungkin memang salahnya ada padaku. Aku yang justru tidak bisa menerima kekurangan mereka. Bukan, bukan salah wajah yang tak tampan, atau dompet yang tak mapan. Aku sendiri pun tidak indah, tidak pula berjaya. Aku hanya biasa saja. Seperti debu yang ingin naik tingkat menjadi sampah. Salahkah?
Tuhaaan.... aku hanya ingin mencintai cinta yang berbalas sebanyak yang aku berikan. Aku ingin, menjadi pengucap, 'aku kangen kamu sayang', pada orang yang benar-benar aku tempatkan sebagai prioritas hatiku, bukan hanya sekedar sambil lalu, lewat begitu saja seperti kentut!
Ada dia, dia dan dia. Semua tampak pas. Tapi aku tak yakin apakah aku pas untuk mereka. Apa harus aku tangkap mereka semua, lalu menyekap mereka dalam penjara ilusi hatiku? Betapa mudah itu sebenarnya. Aku bahkan bisa membuat salah satu dari mereka ejakulasi berkali-kali. See? aku memang hebat! padahal melakukan persenggamaan saja aku belum pernah! Betapa kata-kataku sangat bertuah! Hah!
Tubuh ini ada batas kadaluarsanya Tuhan. Aku tidak bisa mempertahankannya dalam bentuk seperti ini terus. Aku bisa peot dan keriput kapan saja. Dunia ini pasti akan dengan sangat mudahnya membuatku menjadi tidak dikenali lagi dalam waktu 1 detik saja. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menjadikannya berguna?
Apa harus ke pelacuran hanya untuk mencicipi rasa persetubuhan itu seperti apa? Aaah....Tidak. KAU. Ya..KAU wahai Tuhan, bersalah atas menerbitkan rasa takut ini. Takut padaMU, takut pada hukumMU. Padahal merasakan hukuman itu saja aku belum pernah, membayangkannya saja aku menolak. Tapi mengapa aku begitu penurut padaMU, wahai Tuhan-ku? Apa karena aku terlalu mencintaiMU? Tapi kenapa rasanya berbeda dengan aku mencintai ciptaanMU? Aku tidak merasa menggebu-gebu, tidak merasa berdebar, tidak panas dingin, tidak merasa tak bisa tidur, tidak bermimpi apapun tentangMU. Tapi kenapa aku begitu takluk??
Tuhan, salahMU! SalahMU kalau aku selalu menangis saat merasa tak berdaya, saat merasa sangat lelah, saat merasa sudah terbuntukan jalanku. Aku berlari padaMU dalam air mata sesenggukan. Dalam berdiri, duduk dan bersujud, bahkan dalam tidurku. Sakit rasanya. Tapi KAU menenangkannya dengan tidak melakukan apapun. Apa yang kau ciptakan pada tubuhku ini Tuhan? Rahasia apa, ilmu apa?? Jelaskan padaku!
................................................................
Tuhan Tersayang....
Kau memintaku untuk bersabar. Sampai kapan? Sampai pada akhirnya aku menyerah dan memilih untuk melanggar ucapanMU? Tidak. Aku bukan pengkhianat. Aku akan selalu setia padaMU, Tuhan Tersayang. Tapi tolong, hentikan tangis ini.
Aku kesepian.
Aku ingin bersama makhluk yang kau ciptakan untukku.
Aku ingin bercinta. Melepaskan keperawananku.
Lalu setelah itu, aku adalah milikMU sepenuhnya.
Terserah, mau KAU apakan aku!
Duh, Tuhanku yang Maha Baik...
Sekali saja Tuhan, aku ingin bercinta sekali saja.
Pada lelaki. Seperti sewajarnya untuk apa bentuk tubuhku tercipta.
Lalu, satu lagi.
Ijinkan aku merasakan tendangan kecil di perutku.
Ijinkan aku merasakan air susuku tersedot terus sepanjang malam, sepanjang hari.
Ijinkan aku menembangkan mereka lagu dari buku suciMU.
Sudah, sudah jelas bukan?
Aku hanya ingin menjadi wanita utuh.
Secara tepat, tepat seperti yang KAU ciptakan.
_Jakarta : 13Nov10
Benar. Aku kesepian. Karena selama ini belum ada yang bisa membuatku 'orgasme' berkali-kali. Selalu terhenti di tengah jalan, dan rasanya sangat tidak enak!
Tidak. Aku tidak mengumpat pada Tuhan atas mereka yang didatangkan padaku sebelumnya. Bukan salah mereka untuk tidak menjadi 'sempurna' seperti yang aku mau. Mungkin memang salahnya ada padaku. Aku yang justru tidak bisa menerima kekurangan mereka. Bukan, bukan salah wajah yang tak tampan, atau dompet yang tak mapan. Aku sendiri pun tidak indah, tidak pula berjaya. Aku hanya biasa saja. Seperti debu yang ingin naik tingkat menjadi sampah. Salahkah?
Tuhaaan.... aku hanya ingin mencintai cinta yang berbalas sebanyak yang aku berikan. Aku ingin, menjadi pengucap, 'aku kangen kamu sayang', pada orang yang benar-benar aku tempatkan sebagai prioritas hatiku, bukan hanya sekedar sambil lalu, lewat begitu saja seperti kentut!
Ada dia, dia dan dia. Semua tampak pas. Tapi aku tak yakin apakah aku pas untuk mereka. Apa harus aku tangkap mereka semua, lalu menyekap mereka dalam penjara ilusi hatiku? Betapa mudah itu sebenarnya. Aku bahkan bisa membuat salah satu dari mereka ejakulasi berkali-kali. See? aku memang hebat! padahal melakukan persenggamaan saja aku belum pernah! Betapa kata-kataku sangat bertuah! Hah!
Tubuh ini ada batas kadaluarsanya Tuhan. Aku tidak bisa mempertahankannya dalam bentuk seperti ini terus. Aku bisa peot dan keriput kapan saja. Dunia ini pasti akan dengan sangat mudahnya membuatku menjadi tidak dikenali lagi dalam waktu 1 detik saja. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menjadikannya berguna?
Apa harus ke pelacuran hanya untuk mencicipi rasa persetubuhan itu seperti apa? Aaah....Tidak. KAU. Ya..KAU wahai Tuhan, bersalah atas menerbitkan rasa takut ini. Takut padaMU, takut pada hukumMU. Padahal merasakan hukuman itu saja aku belum pernah, membayangkannya saja aku menolak. Tapi mengapa aku begitu penurut padaMU, wahai Tuhan-ku? Apa karena aku terlalu mencintaiMU? Tapi kenapa rasanya berbeda dengan aku mencintai ciptaanMU? Aku tidak merasa menggebu-gebu, tidak merasa berdebar, tidak panas dingin, tidak merasa tak bisa tidur, tidak bermimpi apapun tentangMU. Tapi kenapa aku begitu takluk??
Tuhan, salahMU! SalahMU kalau aku selalu menangis saat merasa tak berdaya, saat merasa sangat lelah, saat merasa sudah terbuntukan jalanku. Aku berlari padaMU dalam air mata sesenggukan. Dalam berdiri, duduk dan bersujud, bahkan dalam tidurku. Sakit rasanya. Tapi KAU menenangkannya dengan tidak melakukan apapun. Apa yang kau ciptakan pada tubuhku ini Tuhan? Rahasia apa, ilmu apa?? Jelaskan padaku!
................................................................
Tuhan Tersayang....
Kau memintaku untuk bersabar. Sampai kapan? Sampai pada akhirnya aku menyerah dan memilih untuk melanggar ucapanMU? Tidak. Aku bukan pengkhianat. Aku akan selalu setia padaMU, Tuhan Tersayang. Tapi tolong, hentikan tangis ini.
Aku kesepian.
Aku ingin bersama makhluk yang kau ciptakan untukku.
Aku ingin bercinta. Melepaskan keperawananku.
Lalu setelah itu, aku adalah milikMU sepenuhnya.
Terserah, mau KAU apakan aku!
Duh, Tuhanku yang Maha Baik...
Sekali saja Tuhan, aku ingin bercinta sekali saja.
Pada lelaki. Seperti sewajarnya untuk apa bentuk tubuhku tercipta.
Lalu, satu lagi.
Ijinkan aku merasakan tendangan kecil di perutku.
Ijinkan aku merasakan air susuku tersedot terus sepanjang malam, sepanjang hari.
Ijinkan aku menembangkan mereka lagu dari buku suciMU.
Sudah, sudah jelas bukan?
Aku hanya ingin menjadi wanita utuh.
Secara tepat, tepat seperti yang KAU ciptakan.
_Jakarta : 13Nov10
Thursday, November 11, 2010
Bukan Mereka, Tapi Aku yang Bilang, kalau Aku ANJING!!
Sedih, kalau menyadari ternyata aku masih bisa cemburu pada makhluk wanita yang mendekatimu. Yang merayumu dengan kecantikannya, dan membiarkanmu terlena di bawah payudaranya.
Haah....aku tidak cantik! Tidak pula anggun! Aku hanya wanita perkasa yang kencing sambil berdiri mengangkang! Seperti anjing bukan? Ya, itu aku! Aku seperti anjing! Anjing pelacur yang mengais selokan dan tempat sampah untuk mendapatkan sedikit cinta.. Cinta sakral darimu! Kau! Tai Babiku!
Kenapa sih, harus kupilih kau dari jutaan nama yang ada? Padahal aku tidak ada niat untuk mengenalmu lebih jauh. Kau hanya sepotong puzzle yang kupilih untuk menggenapi papan kayuku, yang setelah lengkap akan aku bakar di neraka nanti. Tapi kau muncul begitu saja. Menyusup. Menyesap. Lalu meninggalkan bekas.
Haah...lagi-lagi salah! Seharusnya bukan cinta yang hadir. Aku hanya ingin berteman, bukan bergantung. Padamu, atau yang lainnya. Kau punya sejarah cinta yang indah, sementara aku? Aku hanya bagian suram dari segala pengharapan.
Mereka bilang,'bersabarlah', tapi aku bukan penyabar. Aku anjing yang tak sabaran! Aku bukan pengikut aliran sungai. Aku penentangnya! Dan jangan minta aku berhenti bergerak. Nanti aku mati. Nanti aku kesepian. Aku belum punya cukup selimut untuk menghangatkanku di kuburan nanti.
Aku cemburu!
Karena aku hanya bayangan.
Tak bernafas, tak berwujud.
Aku hanya misteri, dan akan hidup seperti itu, seperti yang kau minta.
Tuhan Maha Baik.
Aku hanya dicoba.
Dicoba untuk menjalani hidup ini sebagai Anjing!
Sudah itu mati, tak apalah.
Setidaknya aku bercinta dalam keperawanan.
_Jakarta
Haah....aku tidak cantik! Tidak pula anggun! Aku hanya wanita perkasa yang kencing sambil berdiri mengangkang! Seperti anjing bukan? Ya, itu aku! Aku seperti anjing! Anjing pelacur yang mengais selokan dan tempat sampah untuk mendapatkan sedikit cinta.. Cinta sakral darimu! Kau! Tai Babiku!
Kenapa sih, harus kupilih kau dari jutaan nama yang ada? Padahal aku tidak ada niat untuk mengenalmu lebih jauh. Kau hanya sepotong puzzle yang kupilih untuk menggenapi papan kayuku, yang setelah lengkap akan aku bakar di neraka nanti. Tapi kau muncul begitu saja. Menyusup. Menyesap. Lalu meninggalkan bekas.
Haah...lagi-lagi salah! Seharusnya bukan cinta yang hadir. Aku hanya ingin berteman, bukan bergantung. Padamu, atau yang lainnya. Kau punya sejarah cinta yang indah, sementara aku? Aku hanya bagian suram dari segala pengharapan.
Mereka bilang,'bersabarlah', tapi aku bukan penyabar. Aku anjing yang tak sabaran! Aku bukan pengikut aliran sungai. Aku penentangnya! Dan jangan minta aku berhenti bergerak. Nanti aku mati. Nanti aku kesepian. Aku belum punya cukup selimut untuk menghangatkanku di kuburan nanti.
Aku cemburu!
Karena aku hanya bayangan.
Tak bernafas, tak berwujud.
Aku hanya misteri, dan akan hidup seperti itu, seperti yang kau minta.
Tuhan Maha Baik.
Aku hanya dicoba.
Dicoba untuk menjalani hidup ini sebagai Anjing!
Sudah itu mati, tak apalah.
Setidaknya aku bercinta dalam keperawanan.
_Jakarta
Subscribe to:
Posts (Atom)


